tawa, tangis, suka, duka, cinta adalah bagian dari hidup,**harapan,impian,kebahagian adalah perjuangan dalam hidup
Jumat, 25 Juni 2010
KUCH KUCH HOTA HAI
Ceritanya sendiri mengisahkan cinta di antara tiga orang yaitu Rahul, Tina dan Anjeli. Anjeli bersahabat karib dengan Rahul sejak masuk di Universitas tempat mereka menimba ilmu. Ketika tingkat akhir, Tina datang dan mampu mencuri hati Rahul. Saat mengikuti pelajaran di kelas, si dosen bertanya kepada mahasiswanya apa pengertian Cinta. Rahul yang juga murid terkenal di kelas menjawab dan berkata,” Cinta adalah persahabatan”, jika ingin menjalin cinta maka terlebih dahulu dia harus menjadi teman (sahabat). Pernyataan ini pun mengejutkan Anjeli, dan mulai menyadarkan akan rasa cinta yang dimilikinya terhadap Rahul. Cerita selanjutnya mungkin sudah anda ketahui (namun, jika tidak silahkan menonton film-nya, hahhaa ;P).
Sejak menonton film tersebut, entah kenapa saya juga seperti terhipnotis dengan pernyataan Rahul. Cinta adalah persahabatan. Jatuh cinta tidak diawali dengan rasa suka, namun diawali oleh rasa memiliki sebagai sahabat. Rasa cinta tidak hadir sekejap tatkala kita baru kenalan, namun rasa yang hadir saat sudah saling mengenal.Hal ini mungkin mempengaruhi saya dalam menyikapi pria-pria yang pernah mendekati saya (*sok iye gitu..hehehe). Beberapa orang yang baru saya kenal tiba-tiba langsung berperilaku aneh, membuat saya menjadi sedikit tidak nyaman. Contohnya, saya baru kenalan dengan seseorang di suatu acara, tiba-tiba di malam hari sepulangnya dari acara tersebut dia menghubungi saya lewat pesan singkat atau telefon. Lalu keesokan harinya melakukan hal yang sama lagi. Keadaan ini otomatis membuat saya jadi mikir (*tuing-tuing), ni orang kenapa terus ngubungin saya?. Dan kalau terus-terusan dapat ditebak saya mungkin tidak akan merespon. Dan kondisi ini sering membuat saya tidak ngeh kalau dia mendekati saya. Sampai akhirnya dia berhenti dan mencari yang lain (*diiihh O-}). Alasan lain mungkin dikarenakan saya si Introvert yang Ekstrovert. Tidak mudah bagi saya, untuk bercerita dengan orang yang baru saya kenal. Jadi, ketika dia menanyai saya pertanyaan2 seperti,'sedang apa?udah makan?mau kemana hari ini? dll tanpa diperintah benak saya akan melahirkan pemikiran, emang kenapa aku harus ngasih tau sama nih orang. Hal ini dikarenakan saya tidak mudah memberitahu apa yang akan saya lakukan kepada orang belum saya kenal. Keadaanya akan berbeda jika yang menanyakan tersebut adalah orang yang saya kenal. Tanpa ditanyapun mungkin saya akan berinisiatif bercerita. Dan untuk bisa seperti ini otomatis saya harus menjalin pertemanan dulu dengan dia. Dan orang yang pernah menjalin relasi dengan saya adalah orang yang sudah terlebih dahulu saya kenal. Rasa itupun hadir setelah 4 tahun saya mengenalnya.
Satu pernyataan dalam Bahasa Inggris dituliskan seperti ini " Friendship can end in Love, but Love can't end in Friendship". Berdasarkan pengalaman saya, cinta memang tidak mudah diakhiri dengan persahabatan, hanya sebagai teman (ada batas antara persahabatan dan pertemanan). Dan berdasarkan pengalaman persahabatan orang-orang di sekitar saya banyak yang berakhir di percintaan. Cerita cinta mereka pun terus berlanjut ke tahap selanjutnya. Menurut saya, hubungan tersebut dapat langgeng, karena awalnya mereka sudah saling mengenal. Pengenalan yang terjalin tidak sebatas kenal luarnya saja, namun dalamnya pun sedikit banyak sudah ditembus. Pengenalan awal yang tidak dibaluti dengan kepura-puraan namun apa adanya. Pengenalan bukan berdasarkan agar si dia melihat kita tampak hebat, namun menunjukkan bahwa kita saling membutuhkan dukungan sesama teman. Pengenalan yang menolong satu sama lain mengasihi dengan cara dan gaya masing-masing. Pengenalan yang menolong setiap insan saling mengerti, memahami satu sama lain. Kisah cinta yang berfase pertemanan-persahabatan-akhirnya percintaan. Indah bukan?? ;-). Selamat menjalin persahabatan indah yang dibalut kasih yang tulus. Jika dia cintamu, maka perjalanan akan diarahkan ke sana, namun jika tidak jangan memaksa. Masih banyak teman-teman di sekitar yang akan menjadi sahabat yang pada akhirnya berlabuh di dermaga cintamu......
PS : Setiap orang punya kisah dan mendambakan cerita cinta yang berbeda-beda. Hanya satu yang sama, berharap kisah cinta diakhiri dengan indah untuk mengawali kisah baru bersama yang dicinta..;P
Senin, 24 Mei 2010
Pelajaran lewat Pengalaman bersama Mesin Berjalan
Aktivitas yang mengisi hari-hari saya belakangan ini adalah naik turun angkot. Kemana-mana selalu menggunakan angkot. Walaupun hanya ongkos seribu tetap naik angkot apalagi dua ribu harus naik angkot (karena jaraknya sudah cukup jauh),hehehe. Dulu, waktu masih tiggal di daerah pelosok Bandung , di Jatinangor, jasa angkot tidak terlalu sering saya gunakan. Kaki ini lebih memilih bergerak daripada duduk diam di atas mesin berjalan itu. Alasan lainnya karena jarak tujuan yang harus saya tempuh tidaklah begitu jauh. Hanya dalam hitungan 5-10 menit, maka saya bisa tiba di tempat tujuan. Jasa dan tenaga angkot akan dipilih jika tubuh ini sedang “manja”, dan malas memfungsikan kaki sebagaimana mestinya. Jika sudah pada kondisi ini maka angkot2 akan bersukacita (hooeekkk;p), karena saya menompang sejenak dan dia mengantar saya ke tempat tujuan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,hahaha. Berhubung sekarang saya tinggal di ibu kota propinsi dan sedihnya tempat tinggal saya cukup berjarak dengan tempat main saya (hahaa, gaya..), maka angkot akan menjadi sarana penghubung dan pengantar saya. Waktu yang saya butuhkan tidaklah menentu. Kemacetan dan ketidakaturan beberapa pengguna jalan raya sering memperlama waktu yang sesungguhnya untuk mencapai tempat tujuan saya. Nah, selama diangkot inilah banyak hal yang saya pelajari. Banyak sisi kehidupan yang saya dapat lewat perjalanan dengan angkot.
Salah satu yang saya dapati adalah berikut ini. Ketika lampu merah, yang merupakan komando bagi si bos angkot untuk menghentikan rekan kerjanya. Pada situasi seperti ini tahukah kalian siapa yang akan menyerbu angkot yang saya tumpangi? seperti semut yang langsung menghampiri gula demikian jugalah para pengamen di sekitar lampu merah memandang manis kepada angkot (haha, penumpang-pen). Entah itu waktu panas atau lagi hujan, jarang mereka melewatkan angkot-angkot yang berhenti. Menyanyikan satu lagu (atau kadang tidak selesai karena sudah keburu lampu hijau), lalu mengedarkan ‘kantong’ sebagai wadah penghargaan terhadap lagu yang mereka dendangkan. Terkadang ada penumpang yang memberi namun sering juga kantong itu tetap kosong kembali ke tangan pemiliknya. Begitulah sering salah satu hal yang saya lihat. Angkot melaju dan para pengamen kembali ke tempat peristirahatannya dan menunggu lampu merah selanjutnya. Terlepas motif si pengamen malas bekerja, atau tidak tau harus kerja apa satu hal yang saya pelajari dari mereka adalah sebuah perjuangan. Saya tidak tahu mungkin mereka mengeluh ketika hari sangat panas atau ketika hujan, namun keluhan itu tak menghambat mereka untuk tetap bekerja. Angkot yang berhenti tidak mereka lewatkan begitu saja. Hal yang saya lihat dari kejadian tersebut adalah sebuah usaha terus menerus dan bekerja keras. Pernah suatu ketika, saya sedikit menyerah dengan tantangan hidup yang sedang mendera saya(jiaahhh,sedih amat bahasannya,hehee). Sedikit memberontak dan kehilangan semangat untuk berusaha. Merasa letih dan ingin lari dari kesulitan hidup tersebut (haahh, semakin lebaii pendeskripsiannya). Ketika diangkot lah saya diingatkan kembali. Ketika melihat para pengamen itulah saya ditegor. Ah, bukankah aku lebih beruntung dari mereka?bukankah hidupku lebih baik dari mereka?namun ternyata mungkin saat itu daya juang yang ku miliki tidak setangguh daya juang mereka;-(. Dan melihat para pengamen tersebut saya rasa Tuhan berbicara dan menguatkan saya. Kalau para pengamen itu dapat terus berjuang, kenapa saya harus menyerah?. Mereka berjuang untuk mendapatkan uang atau berjuang untuk dapat mempertahankan hidup. Saya berjuang untuk sesuatu yang juga tentang sisi kehidupan yang harus saya lewati. Lalu apa bedannya? (membayangkan diri saya, dengan kedua tangan di pinggang dan mata melotot, berkata,’lalu apa bedannya?’. Waduhhh seram amat,,hehhehe.)
Saat itu juga, satu sisi dalam diri saya berkata,’ Para pengamen itu entah mereka sudah letih atau tidak tetap saja menyanyi, lalu kenapa dirimu sudah ingin berhenti saat kau merasa kelelahan?. Tidak tau apakah mereka punya pengharapan atau tidak, namun bukankah dirimu memiliki Sumber Pengharapan dan Kekuatan yang menjadi tempat pengaduanmu?. Jangan pernah menyerah La, karena kau diciptakan bukan untuk menyerah namun terus berjuang. Karena kekuatan tidak akan pernah hilang dari orang-orang yang terus memiliki pengharapan. Dan seketika itu juga huuzzzzzttt..sebongkah kekuatan menyelinap masuk merasuki jiwa saya. Menggerakkan sendi-sendi semangat dalam diri saya untuk kembali melanjutkan perjuangan yang sempat istirahat. Dan sayapun berspekulasi sendiri. Dengan berpijak pada pengertian “tidak ada yang kebetulan”, maka tidak kebetulan juga kalau saya harus sering naik turun angkot menempuh perjalanan menuju tempat tujuan. Lewat keberadaan saya diangkot, saya boleh belajar akan semangat juang dari para pengamen tersebut. Coba kalau saya bisa jalan kaki, mungkin saya tidak akan melihat dan menikmati aksi panggung para pengamen dalam menghibur penompang di angkot, mesin berjalan itu. Hehehe...Dan saya tidak akan kepikiran akan daya juang para pengamen tersebut. ;)
**Masih banyak kisah dan cerita yang saya dapati dan lalu di “mesin berjalan” itu, nantikan penuturan saya selanjutnya..ehheheehee...
**Ada pelajaran yang tersirat dan mungkin tersurat dari setiap hal yang kita lihat, alami, lewati. Hanya dibutuhkan sedikit kepekaan untuk melihatnya lebih seksama dan menemukan makna di balik semuanya....
(Nothing to Loose-nya MLTR menemani saya mengakhiri tulisan ini,hehehe^^)
Senin, 10 Mei 2010
Pertemuan dengan Dokter
Beberapa hari bertahan (dan melawan), akhirnya saya menyerah juga. Tubuh ini ternyata tidak sekuat bayangan saya, eh,eh salah,tubuh saya tidak sekuat yang saya bayangkan. Hum, tubuh si gadis dewasa ini ternyata tidak sekuat tubuhnya tatkala remaja. Ya, akhirnya hari ini saya pergi bertemu dengan dia/mereka yang berbaju putih. Mereka yang sering menjadi tempat cerita orang-orang yang(sedang) segolongan dengan saya. Orang yang sakit fisik( haha,mau bilang ketemu dokter aja ribet amat^^hehe).
Sedari dulu saya paling tidak suka kalau harus mengunjungi mereka. Bukan karena punya pengalaman buruk, atau karena wajah-wajahnya yang menyeramkan (beberapa banyak yang cakep kok;-)hahaayyy ), atau karena takut dengan jarum suntik dan darah (seperti beberapa orang). Alasan yang sebenarnya semata-mata karena saya malas dan beranggapan bahwa saya akan sembuh tanpa bantuan dokter. Dulu kalau saya sakit ringan (batuk,flu,pilek, demam-tinggi-sedang-rendah) saya hanya butuh perawatan penuh kasih dari mama tersayang ditambah tegukan si air putih yang tak terhitung jumlahnya. Dan tak lupa juga istirahat yang banyak. Jika tingkat sakitnya sedikit lebih parah, saya mengalah dan mau bekerjasama dengan pil-pil dan sejenisnya untuk membasmi si biang kerok. Hal ini benar-benar terjadi kalau saya sudah sadar bahwa tubuh saya membutuhkan senjata tambahan berupa sekelompok obat tersebut. Dan, utungnya mamaku bekerja di salah satu pusat pelayanan kesehatan yang mengerti tentang obat-obatan. Dengan demikian obat dari dokter akan sampai ke tangan saya tanpa harus bertemu dengannya.
Kondisi di atas sudah beda dengan sekarang ;-(. Sekarang saya tidak lagi tinggal bersama orang tua. Jauh dari orangtua dan menjadi penghuni salah satu kosan di kota saya menimba ilmu dan mengadu nasib. Jadilah saya harus mandiri dan mengurus diri sendiri. Mau makan cari sendiri, mau nyuci cuci sendiri, sakit-berobat sendiri. ahayyy,kayak lagu dangdut,hehehe. Semua harus saya kerjakan sendiri . Tidak bisa lagi seperti dulu,hanya melalui mama. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menghadap si dokter dan bercerita tentang sakit yang saya alami. Pilihan ini harus segera dilaksanakan, kalau mau sembuh secepatnya (*saya berkata demikian kepada diri sendiri untuk melawan rasa malas/enggan berkunjung ke dokter).
Tadi malam sebelum tidur, saya sempat menjelajah dunia perinternetan (*hum bahasa Indonesia browsing apa ya??). Nah, berdasarkan pencarian tersebut, saya jadi dihinggapi rasa takut. Sakit yang saya derita, dinyatakan gejala dari penyakit yang gawat. Sakit parah yang pengobatannya susah. Huaa, sontak saya jadi bingung dan cemas. Waduh,kalau itu benar, berarti saya harus istirahat untuk waktu yang lama, saya tidak bisa main kemana-mana, saya harus pulang sehingga ada yang ngerawat, *duhduhduhduhduh, saya panik parah dengan mimik yang jauh dari wajah sumringah*.
Di tengah-tengah kepanikan tersebut, akhirnya saya menenangkan diri seraya berkata all iz well,all iz well mencontek dari film yang baru (lagi) saya tonton. Tapi kepanikan saya tidak berubah juga. Dan saya tau hal apa yang harus saya lakukan untuk mengalahkan si panik ini. Mengambil waktu sejenak dan berserah pada-Nya. Hal yang membuat saya tenang dan dengan mudah mengantar saya tidur. Meninggalkan kepanikan yang belum tentu kebenarannya itu.
Siang tadi, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Deg-degan, keringat dingin, takut, gemetaran tidak saya alami,hahhaa. Saya merasa biasa-biasa saja saat akan bertemu dengan si dokter. Selintas terbersit ketakutan saya tadi malam, tapi secepat kilat saya mengibaskannya dari memori.ah,itu hanya pikiran saya saja yang terlalu jauh. Sang dokterpun mulai melakukan tugasnya, cek sana-cek sini, tanya ini-tanya itu, bilang apa-bilang api (lho??)hahha. Dan dengan entengnya dia berkata,” kamu sakit karena kecapean dan cuaca yang tidak baik, batuknya karena kamu suka makan gorengan. Untuk sementara jangan makan gorengan,minum es dan makan mie dulu ya’, tambahnya. Dalam hati saya berkata,”hah!, Cuma sakit seperti itu ternyata!”. Tapi untuk memastikan saya bertanya kepada si dokter,”berarti sakitnya hanya karena itu ya dok?bukan karena sakit yang lain-lain?”Tanya saya dengan penuh rasa ingin tahu. Dan dengan santai si dokter itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan pertama saya.Lega.
Diperlajanan pulang dari rumah sakit hal yang terbersit dalam fikiran saya adalah, kenapa saya memperlama waktu berobat? Menyesal karena tidak cepat langsung berobat, pasti sembuhnya pun lebih cepat dibanding dengan sakit yang sudah saya alami berhari-hari. Dan jawabannya adalah karena saya menghindar. Menghindar untuk bertemu dokter. Menghindar dari ketakutakan untuk sesuatu penyakit yang saya bayangkan. Padahal yang terjadi tidaklah serumit yang saya bayangkan. Padalah justru setelah bertemu dokter saya jadi diyakinkan bahwa sakit saya hanya sakit biasa. Bahwa apa yang saya takutkan hanyalah ketakutan yang tidak beralasan.
Pelajaran hari ini: jangan pernah menghindar untuk sesuatu yang harus anda hadapi. Mau tidak mau,suka tidak suka, hal yang membuatmu malas/menghalangi langkah anda haruslah tetap dihadapi. Jadi kenapa harus memilih menghindar? Cepat atau lambat,mana yang anda pilih?mengutip motto seorang politikus”lebih cepat lebih baik” merupakan pilihan yang bijak dalam menghadapi sesuatu hal yang sedang anda hindari.
Salam sehat dan tetap jaga kesehatan^^
Kamis, 06 Mei 2010
Selamat hari lahir-Bagian I
Harusnya si di masukin blog 1 Mei kemarin, tapi baru sempat sekarang..^^hehehe
Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa adalah pilihan. Demikian isi layanan pesan singkat seorang teman. Kalimat tersebut menjadi kata-kata mutiara yang berkesan buat saya diusia 23 tahun ini (huaaa, pernyataan pertama semakin disahkan, bahwa saya sudah semakin tua~,~). Berada pada usia ini menandakan perjalanan hidup saya yang hampir mendekati (minus 2 tahun lagi!!) seperampat abad usia. Entah sudah berapa era/masa yang sudah saya lewati. Mulai dari bayi kecil mungil imut lucu nan cantik (hahaha, naluri narsis saya lagi membumi,hehe), kemudian menginjak masa anak-anak, TK, SD. Masa yang dulu membuat saya ingin cepat besar, bisa bebas main kemana saja tanpa harus dilarang orangtua. Masa yang jarang ditemani oleh pikiran-pikiran seperti yang dialami oleh orang dewasa. Masa dimana bebas lepas bermain karet, kelereng atau bola kaki tanpa ada larangan ataupun ketakutan. Masa yang saat ini saya rindukan (tapi sayangnya kantong doraemon tidak bsa dipinjam,;().Tampaknya masa ini adalah masa hidup yang tanpa beban, dapat tertawa lepas. Mau apa-apa tinggal bilang pada orangtua dan kalau tidak diijinkan maka saya akan menangis. Setelah menangis−tetap aja sih ngga dikasih=) hehehe− saya akan pergi main dengan teman dan sudah!!, sudah lupa terhadap hal yang saya tangisi^^. Mulai lagi dengan permintaan-permintaan baru, tanpa ingat lagi kejadian yang sudah berlalu.
Seiring perjalanan waktu (yang tak pernah berhenti) saya pun menapaki masa remaja nan jenaka, penuh canda dan tawa tak ketinggalan juga tingkah-tingkah yang merajalela. Pergi main sesuka hati membuat orangtua gusar, atau menggangu teman hingga membuatnya menangis. Ber-hahaha hihihi dengan teman satu geng (geng???),atau ngomongin kakak kelas cowok yang mengagumkan ketika pidato, atau memimpin baris berbaris. Hum, masa-masa manis saat dulu sudah mulai membicarakan nanti kalau sudah besar dewasa aku mau jadi ini, aku mau kuliah di sana, aku mau cowok yang seperti itu, aku mau ini, mau itu. Suatu harapan untuk beberapa tahun ke depan yang akan dialami. Geli rasanya, saat mengingat semua itu. Gadis remaja yang mengisi hari-harinya belajar, les, membantu orangtua di rumah sudah mulai membayangkan hal-hal tersebut.
Lalu hari berganti, bulan berganti, tahun berganti tanpa disadari usia sudah kepala dua. Istilah teman saya ‘telor sudah pecah’. Dan kalau tidak salah ingat di usia 21−dua tahun silam−berkesan bagi saya. Saya merasa sudah harus menjadi seorang yang dewasa, dewasa menurut pengertian saya sendiri. Ketawa bukan lagi ngakak-ngikik tak jelas, ngomong tidak lagi ceplas-ceplos tak karuan, gaya berpakaian pun berusaha dirubah−dari kaos/t-shirt yang menjadi seragam kebanggaan menjadi baju yang lebih feminim−atau kamar tidak lagi berantakan dll dll, sesuai pengertian dewasa yang saya bayangkan. Padahal sebenarnya hal yang dituntut dari sifat dewasa bukanlah pada apa yang kelihatan sekilas dan kasat mata, namun dewasa karakter/sifat/sikap/perilaku yang menjadi pondasi dalam bertingkah,bertutur, berbuat terhadap sesama. Pondasi dalam menghadapi setiap penggalan perjalan hidup yang akan ditempuh dari waktu ke waktu yang semakin mematangkan si”dewasa’ itu sendiri.
Melihat usia (sekali lagi jika dilihat lewat usia), seyogyanya 23 tahun sudah menobatkan saya menjadi gadis dewasa berharap dari segi karakter pun tidak ketinggalan dari usia itu sendiri. Meski demikian saya sadari pondisi itu belum begitu kokoh. Beberapa hal sering saya jadikan sebagai indikatornya. Mulai dari berperilaku terhadap orang lain masih belum bisa mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri−ada kalanya saya menjadi manusia egois− atau ketika mengerjakan sesuatu terkadang belum melakukan segala sesuatu seperti untuk Allah, tatkala keinginan sendiri muncul, terkadang saya menomorsatukkannya dalam mengambil keputusan.
Membaca setiap pesan singkat yang masuk, medengar setiap ucapan “kata-kata mujarab di peringatan hari lahir”petuah untuk semakin dewasa jarang ketinggalan. Bersama pesan-pesan lainnya−semakin dewasa dalam iman dan karakter –sering tampil. Apa mungkin karena dewasa adalah pilihan sehingga sering dipromosikan (baca: diucapkan), dan berharap si penerima semakin mengenal dan memilihnya??hehhee. Saya berharap di usia yang sudah dewasa ini, “si dewasa” yang sesungguhnya itu berjalan mengiringi saya menapaki kehidupan. Melalui setiap persoalan, masalah, sukacita, kebahagian, perselisihan dan setiap hal yang saya alami dan akan alami menolong saya semakin dewasa. Dan ‘dia’ semakin kokoh dibangun di dalam diri saya untuk semakin tangguh untuk melanjutkan perjalanan hidup menempuh tiap-tiap masa yang juga akan saya lewati nantinya. Sampai akhirnya ketika nanti sudah tua (tua yang menjadi bagian saya beda dengan bagian anda;D), dewasa mendampingi saya.
Selamat berulang tanggal dan bulan lahir sahabatt^^...
*Segaris rentang waktu, telah kau jalani di dalam kehidupan ini
Tiada terukur segala kebaikanNya, sungguh tak terbilang kemurahanNya
Di dalam kasih Tuhan mari kita rayakan..
*diambil dari lirik lagu hip hip hura-Nikita
Sri Mulyani-Srikandi Indonesia
Sri Mulyani akan bekerja di Bank Dunia yang akan dimulai sejak tanggal 1 Juni. Pemberitaan tentang hal ini heboh di media massa, media elektronik dan juga jejaring sosial. Salah satu jejaring sosial menyatakan ‘pindah kerja’ ibu tersebut menjadi topik yang paling banyak dibicarakan. Banyak yang menyatakan rasa kehilangan, sebagian mendukung, sebagian berkata hebat, yang lain menyatakan selamat. Ada yang (merasa) kehilangan, ada pula yang (mungkin) senang akan hal ini. saya tidak ingin membahas “mereka”−orang-orang yang merasa terganggu dengan kinerja, kebijakan, dan sistem kerja Sri Mulyani, −tapi saya ingin mengatakan bahwa saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang merasa kehilangan. Bagi saya Sri Mulyani adalah salah satu wanita hebat Indonesia. Banyak prestasi yang sudah beliau ukir. Sebut saja di tahun 2006 mendapat penghargaan sebagai menteri Keuangan terbaik. Kemudian kiprahnya di dunia Internasional yang merupakan wanita Indonesia pertama yang menjabat sebagai Executive Director Dana moneter Internasional (IMF) dll dll. Dan bukankah karena prestasi sehingga Beliau diminta untuk bekerja di bank Dunia?
Salah seorang teman saya (yang merupakan bawahannya di Depkeu), menyatakan kagum atas kepemipinan beliau. Tegas, cerdas, lugas, Dan saya yang walaupun belum pernah melihat langsung bagaimana beliau memimpin menyatakan setuju dengan pendapat teman saya. Melihat setiap kata-kata yang dikeluarkan saat harus meghadapi wartawan. Tidak banyak bicara namun setiap hal yang Beliau ucapkan tidak sia-sia. Terpancar kecerdasaan dari setiap tutur yang Beliau keluarkan. Tampak tidak ada kebimbangan saat harus mempertanggungjawabkan setiap hal yang Beliau kerjakan.
Sri Mulyani adalah sosok wanita yang multi talenta, berintegritas dan berkepribadian tangguh. Beberapa masalah sudah dialaminya ketika menjadi pejabat di negara ini. Sebut saja kasus Lapindo−ketidaksetujuannya dana APBN digunakan sebagai ganti rugi, karena hal tersebut adalah tanggungjawab ‘pemilik’ penyebab lupur tersebut, kasus dengan beberapa pengusaha batu bara dan kasus-kasus lainnya. Pernah ketika dia dimintai keterangan oleh para (yang katannya) wakil rayat dia menjawab dengan berani dan tidak ada sedikit kecanggunan di sana.
Lalu jika dilihat dari kiprahnya sebagai seorang ibu, menurut hasil wawancara dengan Intisari edisi Sptembet 2009 tetap saja diamengagumkan bagi saya. Menurut pengakuannya, Beliau akan menyediakan waktu kapan saja ketika anak-anak sedang membutuhkannya. Pendidikan menjadi nomor satu tapi bukan berarti pendidikan miliki Indonesia tidak diliriknya. Anak-anaknya dimasukkan ke sekolah-sekolah local bukan internasional. Hal ini bertujuan agar anaknya bergaul dengan orang Indonesia karena mereka adalah orang Indonesia bukan orang kuar negeri (sebelumnya mereka tinggal di Amerika).
Contoh lainnya adalah Beliau mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi warga negara yang mencintai negara. Wah, bukankah itu suatu didikan yang menunjukkan rasa hormat terhadap negaranya. Jarang saya temui orangtua yang sejak kecil mengajarkan dan menanamkan rasa cinta yang besar terhadap negaranya. Lalu saya juga pernah melihat acara Dialog beliau di salah satu Tv swasta nasional. Sungguh hal tersebut menambah kekaguman saya pada beliau. Anak-anaknya tumbuh dengan baik (paling tidak itu yang dapat saya tangkap dari kebersamaan di acara tersebut), suaminya mendukung penuh setiap karier dan tindakan beliau. Alhasil sampai saat ini rumah tangganya merupakan tempat yang penuh kenikmatan. Huaa, hebat sekali bukan. Wanita multitasking yang piawai dalam bernyanyi, melukis, menjahit apalagi pengetahuan tentang ekonomi, jangan ditanyakan lagi.
Ah, sedih rasanya ketika melihat wanita hebat ini memberikan ilmunya untuk instasi yang disebut ‘World Bank’ itu. Padahal tenaga, pemikiran, keputusan, kebijakan darinya masih sangat diperlukan negara ini. Beberapa orang berpendapat keputusan beliau untuk bergabung dan meninggalkan ‘pasukannya’ di Indonesia adalah karena beratnya tekanan politik yang dialami. Tekanan dari orang-orang yang mungkin lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada bangsa ini.
Meskipun demikian, di balik rasa sedih tersebut, terselip juga rasa bangga. Beliau diminta langsung oleh Pemimpin World Bank, Robert Zoellick. Robert menyatakan bahwa kinerja Sri Mulyani di sektor ekonomi sangat baik dan berprestasi. Menurutnya, Sry Mulyani mampu membawa Indonesia melewati krisis global yang menghantam hampir seluruh negara di dunia. Kepiawaiannya dalam membuat kebijakan mendatangkan iklim yang positif bagi perekonomian Indonesia maupun global (meski pengaruhnya tidak dalam porsi yang besar). Huh, mengapa orang dari ‘luar sana’ dapat melihat kehebatan beliau sedangkan ‘sesama’ yang katanya berjuang untuk Indonesia tidak membuka matanya lebar-lebar untuk hal ini. Siapa yang salah disini. Orang Indonesia yang buta atau pihak luar yang salah lihat?.
Beberapa dekade sudah banyak hal yang Beliau lakukan. Banyak “kado” yang sudah Beliau hadiahkan untuk bangsa ini secara umum dan untuk bosnya secara khusus. Prestasi-prestasi yang pernah ditorehkannya ketika melayani di negeri ini dapat dilihat di sini. Alasan jelasnya mengapa beliau memilih untuk bergabung dengan Bank Dunia, hanya diketahui oleh beliau. Setiap orang hanya dapat menebak dan menerka-nerka. Berharap ketika sudah bekerja di World Bank sana beliau tetap memberikan sumbangsihnya buat Indonesia. Setiap pemikiran, masukan, dan pengetahuannya pasti masih sangat diperlukan bangsa ini. Bangsa yang masih membutuhkan Sri Mulyani, Sri Mulyani lainnya. Teriring pesan buat beliau (walaupun mungkin tak pernah diketahuinya,hehhe) selamat berjuang Bu!! Selamat menjelajah dan berkiprah di dunia Internasional. Berkarya dan berbuat sebaik-baiknya untuk dunia yang lebih baik.
*sehebat-hebatnya manusia tetaplah dia manusia yang pernah berbuat salah.Bukankah manusia dapat beajar banyak dari kesalahan?Namun terkadang sesama lebih mampu menelanjangi kesalahan orang lain dan menghukumnya daripada menyadari kesalahannya sendiri...*
Kamis, 22 April 2010
Berkenalan dengan pengaruh Cinta

Siap jatuh cinta berarti siap patah hati. Kata bijak yang sering kudengar dan aku pun mengiyakan pernyataan itu. Siap memberi hati diisi harus siap juga suatu saat ditinggalkan. Jatuh cinta berjuta rasanya, begitu penggal sebait lagu. Hal inipun benar. Saat merasa jatuh cinta wajah ini selalu tapak sumringah, hati ini selalu terasa plong, jantung ini berdebar-debar menantikan pertemuan dengan dia yang dicinta. Entah dia yang dicinta merasakan hal yang sama atau tidak. Sedikit teguran, atau perhatian darinya akan mampu mengalihkan perhatian dari seratus orang sekitar. Mulut ini serasa tak jemu-jemu ingin bercerita tentang sebuah rasa yang dialami. Fikir ini tak bosan-bosannya memikirkan dan mengingat dia sang pemanah cinta. Mata ini tak kunjung terlelap karena hanyut dibuai bayangan sang pujaan hati.
Siap berarti tidak ada kekurangan, siap berarti tidak lagi melihat ke belakang dan berkata tunggu dulu. Siap berarti tidak peduli sekitar terus maju menuju hal yang dituju. Siap menantikan respon yang dicinta entah itu respon yang dinginkan atau yang tidak diharapkan.
Perjalanan cinta manusia tidak lagi terhitung jumlahnya. Banyak cinta yang berakhir manis namun tidak sedikit yang diselesaikan dengan pahit. Siapapun itu, suku apapun, orang manapun pasti memimpikan cinta yang diakhiri dengan indah. Bayangan cinta seperti negeri dogeng membuat orang lebih siap jatuh cinta daripada patah hati. Jatuh cinta tidak membuat dia berfikir lama, jatuh cinta tidak membuat seseorang menjadi lebih buruk, jatuh cinta menjadi saat-saat menyenangkan yang sering tak dapat dilukiskan rasanya. Dan akhirnya hanyut terlalu jauh dalam buaian cinta dan tidak siap untuk bangkit ke alam di luar impiannya.
Ketika seseorang tidak siap patah hati sesungguhnya dia juga belum siap untuk jatuh cinta. Rasa cinta yang dimiliki hanya menuntun kita memasuki tujuan-tujuan yang dikehendaki, padahal seharusnya rasa itu harus menuntun kita ke hal yang harus kita alami. Mencintai tidak pernah salah karena hak manusia untuk mencinta, namun memiliki dia yang dicinta bukanlah kita yang menjadi penentunya. Banyak perjalanan yang harus ditempuh untuk mengetahui apakah dia milik kita selamanya atau tidak. Jatuh cinta yang sedih adalah ketika rasa hanya tinggal dihati seorang. Saat rasa yang sama tidak dimiliki oleh dia yang dicinta. Hal ini menjadikan cinta bertepuk sebelah tangan. Usaha yang gigih, pengorbanan yang tanpa letih, akan meninggalkan hati yang perih saat menyadari kenyataan tersebut. Namun jatuh cinta yang lebih menyedihkan adalah saat subjek (se pencinta) dan objek (yang dicinta) saling memiliki rasa namun tidak dapat bersama. Lalu bagaimana dengan kisah cinta anda? Seperti apapun semoga kisah cinta tidak hanya dijalani (jika terus langgeng) dan dilewatkan (jika harus terpisah), berlalu begitu saja. Petiklah pelajaran berharga dari pengalaman2 yang pernah anda alami. ;-)...
Rabu, 21 April 2010
Bukupun dipakai Tuhan *Judul yang Tanggung*=)
Akhirnya saya memutuskan untuk mengerjakan yang lain, membongkar kotak buku saya yang lama tidak disentuh. Dasar Ella malas(atau pelupa??) ternyata ada beberapa buku yang belum saya baca. Huuu, padalah satu bulan terakhir ini, kerjaan saya hanya bangun,makan, ngenet, baca, nonton, tidur, terus besoknya sama lagi deh ;-)..hahaa. tiga puluh hari dengan kesantaian tersebut menyadarkan saya, tidak selamanya santai itu menyenangkan, yang ada malah membosankan..huhuhu...aku mau kerja! Aku mau kerja! ;-( tiba-tiba teringat pesan banyak orang, “nikmati aja dulu masa-masa seperti ini,nanti kalau udah kerja tidak akan mudah mengatur waktu seperti yang kita suka. Pengen baca tapi ada kerjaan yang harus diselesaikan, pengen nonton tapi ada rapat yang harus dihadiri, pengen tidur tapi ada tugas tambahan dari si boss dll dll)..
Kembali ke acara bongkar-bongkar buku, saya menemukan satu buku pemberian seseorang. Buku tipis yang isinya tidak sampai seratus halaman. Buku ringan namun menyuguhkan makna yang berkesan. Buku yang berisi catatan pengalaman beberapa orang dalam tugas penggembalaan yang sedang mereka emban. Judul bukunya adalah (tarrraaaa!!! Hahaha...). “ Secangkin bandrek untuk Pemimpin Kelompok Kecil”. Entah apa alasan pemilihan bandrek sebagai penguat brand dari isi buku ini. Bandrek adalah sejenis minuman yang enak dinikmati jika disuguhkan saat cuaca dingin tak bersahabat. Bandrek memberikan kesegaran bagi penikmatnya. Menghangatkan tubuh, menghilangkan masuk angin (benar ngga sih??), menghilangkan dahaga, pokoknya baik buat kesehatan..hehehe
Saya berspekulasi sendiri dengan pemilihan bandrek yang disandingkan dengan PKK.Sang Editor (pemberi judul buku) mungkin berharap pembacanya (yang merupakan pemipin kelompok kecil), memperoleh kehangatan−rasa ‘nyaman’ untuk peran PKK seperti yang dialami oleh para penutur−,memperoleh kekuatan−dukungan dari sesama PKK untuk beratnya tanggungjawab yang diemban−, memperoleh kesehatan−untuk semangat PKK yang mulai sakit−dan memberikan penenguhan bahwa menjadi PKK adalah menjadi pelayan yang melakukan hal kecil namun memberikan kontribusi besar bagi Dia.
Membaca kisah-kisah perjalanan PKK di buku ini mengajak saya untuk menyelidiki bagaimana perjalanan saya sendiri. Indah memang ketika melihat perjuangan orang lain dan berakhir bahagia ketika akhirnya adik-adik yang dipercayakan padanya bertumbuh. Dan sebaliknya,miris ketika melihat bahwa saya belum melakukan sebaik yang mereka lakukan. Lima orang Tuhan percayakan,namun sampai saat ini saya belum merasa melakukan yang terbaik. Masih belum memahami karakter mereka satu persatu, masih sering mengabaikan saat mereka membutuhkan, bahkan terlalu memaksakan beberapa diantara mereka dewasa seperti yang saya harapkan. Akan tetapi saya menyadari, tapaknya saya banyak berharap namun tidak banyak menolong. Saya banyak menanti namun tidak banyak berjuang. Kesalahannya mungkin terletak pada pemikiran saya yang meneguhkan pandangan saya, bahwa kondisi mereka sudah seperti yang saya fikirkan. Tingkat kedewasaan mereka sudah seperti yang saya bayangkan. Padahal harapan tidaklah selalu sama dengan kenyataan.
Beberapa hari terakhir, hal ini yang terus saya fikirkan. Memilih bertahan di kota−yang penuh ke-indahan,kenangan−, atau pergi menjelajah wilayah-wilayah yang ingin saya jalani. Meninggalkan adik2 KTB saya−yang beberapa diantaranya masih perlu dibimbing− dan mencari pekerjaan dimanapun yang bisa menghasilkan duit untuk melanjutkan hidup.
Sampai tulisan ini ditulis, saya masih belum dapat memutuskan. Keinginan manusia saya adalah pergi melanjutkan kehidupan dengan pengalaman-pengalaman baru. Menerobos sisi kehidupan luar yang sesungguhnya (kata orang) penuh tantangan dan godaan. Akan tetapi, tidak tahu kenapa jauh di dalam hati saya ada isyarat bahwa belum sekarang waktunya. Masih ada tanggungjawab yang dulu saya iyakan pada-Nya yang masih harus saya selesaikan. Dan tidak tau karena apa−segala sesuatu tidak pernah terjadi secara kebetulan bukan?− di saat saya sedang digelisahkan dan diresahkan hal tersebut, buku di atas pun muncul dan mengingatkan saya. Buku pun dipakai Tuhan untuk menyatakan suara-Nya, semoga saya si manusia yang dicipta ini dapat taat dan peka....hehheee...;)
Senin, 05 April 2010
unek-unek tak jelas..saat sudah mulai letih bermain dengan si lepi

Satu persatu pergi,atau satu persatu aku tinggalkan?..
satu persatu meninggalkanku,atau satu persatu aku lupakan?
tapi tampaknya bukan alternatif terakhir..
karena aku tidak pernah melupakan, mengabaikan mungkin iya...):
Tapi sejujurnya aku tidak sengaja mengabaikan, hanya keadaan memaksaku untuk bertindak seperti itu..
Satu persatu akan diungkapkan..
akankah kita?, mereka?, kalian?...tidak ada yang tahu...
satu persatu akan dijawab seiring waktu..
ella sedang memikirkan orang-orang satu persatu,kesempatan satu persatu,kejadian yang dirunut satu persatu..^^
Gambar adik kecil di atas cukup menghibur...seraya dia berkata:
ka ella, fikirin satu persatu dengan santai tapi pasti..
nikmatilah masa2 pergumulanmu..*dia menunjukkan betapa hidup ini indah bersama musik??nah lo...hubungannya apa??;)
(hahahha...intrepretasi sendiri)...
Kamis, 25 Maret 2010
Menemukan Jawaban Melalui Tujuan
Entah dimana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu..
Penggalan lirik lagu ini menemani saya melewati malam ini. Lagu ini semakin menyiratkan rasa sepi. Kosan yang sepi karena orang-orang sudah tidur, ditambah juga dengan hati saya yang terasa sepi (alahh..!!). Sepi yang berarti Sedang Pusing (Sedikit dipaksakan,hehehe). Ternyata tidak hanya otak yang pusing, hatipun dapat mengalami hal yang sama. Pusing saat tidak menemukan sesuatu yang mengisinya. Pusing saat diperhadapkan dengan keinginan dan kebutuhan. Pusing untuk hal-hal yang terlalu banyak diketahui (ataukah malah sebaliknya), sehingga tak tau harus berbuat apa.
Kalau lagu di atas ditujukkan untuk seseorang yang pernah mengisi hidup si penyanyi, maka saya pun menyamakannya dengan apa yang saya rasakan sekarang. Hanya saja bedanya, ini bukanlah tentang seseorang tapi sesuatu. Kalau lagu itu lebih menceritakan orang tercinta yang tak tau dimana, saya memiliki hal lain yang tidak tau bersebunyi dimana. Sesuatu ini membuat saya bingung dan terus mencari. Sesuatu ini membuat pikiran saya tak henti-hentinya hingar bingar. Sesuatu ini membuat mata saya sulut terpejam. Sesuatu tersebut mempengaruhi mood dan perhatian saya. Sesuatu yang mungkin dulu telah saya temukan namun perlahan pudar dan bercampur dengan tawaran-tawaran yang membuatnya kabur.
Bak si semut yang terputus dari iring-iringan sesamanya, saya pun merasakan hal yang sama. Serasa berada di jalan yang tidak tau harus dilanjutkan kemana. Ada pilihan untuk ke kanan,ke kiri atau ke depan. Pilihan yang tak memungkinkan saya pilih adalah berbalik atau berdiam. Kedua hal ini bukanlah pilihan yang bijak. Saya tau itu, semua orang yang melihat pun pasti tahu itu. Andai saya disuruh memiih mana yang benar dan salah, maka akan dengan sangat mudah tangan ini menunjuk dan kaki ini melangkah. Andai pilihan antara yang penting dan tidak penting maka akan dengan mudah menentukan yang dinomorsatukan dan yang dinomorduakan. Namun demikian, dalam kenyataanya pilihan-pilihan yang ada membuat saya bingung. Tawaran dari pilihan A membuat saya tergiur, tawaran dari pilihan B membuat saya tergoda, tawaran dari pilihan C tak ingin saya lepaskan. Belum lagi tawaran dari pilihan D,E,F dst (Sesungguhnya pilihan-pilihan yang tersedia tidaklah sebanyak ini..;D). .
Apa yang anda lakukan saat bingung dan diperhadapkan dengan sejuta pilihan (sekali lagi pilihannya tidaklah sebanyak ini..), lari ?membutuhkan penasehat? Atau memilih berdasarkan perasaan?atau berdiam?. Berdiam mengambil waktu sejenak. Berdiam menenangkan pikiran yang dipenuhi sejuta pertimbangan. Berdiam memulihkan hati dan mengarahkannya pada hal yang pasti.
Berdiam menjadi pilihan yang tepat, karena pilihan-pilihan lainnya hanya membuat saya semakin hilang arah.Berdiam dan mencari tahu sesuatu itu. Mencari tahu apa alasan dibalik dari saya mengerjakan A, B, C, D dst. Berdiam dan bertanya kepada hati yang sepi mengajaknya untuk menemukan suara hati. Berdiam dan menenangkan pikiran yang hingar bingar dipenuhi hal-hal yang menjadi pertimbangan.
Tujuan, ya itulah jawabanya. Apa tujuan dari semua ini. Apa yang ingin saya capai di kala memilih. Tujuanlah yang akan menjadi penggerak untuk melakukan langkah selanjutnya. Jika tujuan anda ke Jakarta naikilah bis yang menuju Jakarta bukan yang ke Bogor. Tujuan yang jelas dan pasti akan menghantar anda mencapai kebahagian sejati.
Malam ini saya diingatkan kembali untuk mencari tahu tujuan dari semua yang sedang dan akan saya jalani. Menemukan tujuan yang jelas untuk akhirnya dapat meneruskan langkah dan arah. Menemukan tujuan yang pasti untuk akhirnya hati dan logikapun dapat kompromi. Tujuan mau kemana saya selanjutnya dan apa yang saya harapkan setibanya disana?
** Tujuan yang jelas akan menuntunmu melewati bukit kesulitan, lembah ketakutan, gunung tantangan.
**Tujuan yang jelas akan memberimu kekuatan, keberanian, dan keinginan yang kuat
**Tujuan yang jelas akan menghapus segala kebimbangan dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang tidak perlu diperhitungkan...
Tiba-tiba terngiang petikan lagu berikut..
Mau di bawa kemana hubungan ini??hahhaha...mari menemukan tujuan, baru melanjutkan langkah..
Ella yang sedang mumet dan ingin menyelidiki ulang tujuannya didatangkan ke dunia..
Nasionalisme : Meninggalkan Jasa Tanpa Harus Membawa Nama
Jumlah mereka tidak sedikit. Berpuluh-puluh, beratus-ratus bahkan beribu-ribu yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun satu hal yang menjadi persamaan mereka dengan tokoh-tokoh besar di atas adalah semangat juang yang dimiliki. Mereka memiliki kesadaran yang sama untuk kepentingan bangsanya. Bayangan Indonesia merdeka menjadi mimpi mereka setiap saat. Kerinduan untuk mewujudnyatakannya menjadi pemikiran mereka setiap waktu. Rasa benci terhadap penjajahan, rasa kasihan terhadap rakyat yang ditindas, rasa sayang terhadap bangsanya menjadi api yang membakar semangat mereka. Dengan semangat itu mereka bangkit menentang dan mengusir para parasit yang menggerogoti kekayaan bangsa.
Semangat itu menghangatkan tubuh mereka saat malam-malam dan pagi-pagi melawan penjajah. Semangat itu menjadi sumber kekuatan saat rasa lapar menghampiri mereka di medan perang. Semangat itu menjadi penghibur saat rasa rindu terhadap keluarga tak dapat disampaikan karena sedang berperang. Semangat itu menggerakkan mereka untuk menerobos ketakutan, untuk menghilangkan perbudakan di negerinya sendiri.
Perjuangan butuh pengorbanan. Taruhan nyawa bukan masalah bagi mereka. “Asal bangsaku merdeka”, itu yang ada dipikiran mereka ketika berperang. Salah satu hal yang paling berharga bagi manusia rela mereka korbankan. Nyawa. Mereka memliki prinsip dari pada hidup dalam cengkraman penjajah lebih baik mati melawan penjajah.
Sungguh semangat yang tak dapat dilupakan! Sungguh suatu pengorbanan yang tak ternilai! Sungguh suatu perjuangan yang tak sia-sia! Perjuangan itu pun membuahkan hasil. Kemerdekaan sudah tampak di depan mata. Tujuh belas Agustus 1945 adalah buah perjuangan mereka. Beratus-ratus tahun berjuang dari generasi ke generasi akhirnya tercapai juga. Bagi mereka yang berjuang pada detik-detik kemerdekaan, adalah sebuah kehormatan saat mereka bisa mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan. Terharu, gembira, bebas, merdeka mewarnai hati dan perasaan mereka. Saat Bendera Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dilantunkan,” Indonesia Raya merdeka merdeka” terus bergema di dalam jiwa mereka. Kematian di medan perang menjadi akhir dari tubuh fisik namun bukan akhir dari semangat mereka. Semangat itu kekal sampai saat ini. Semangat itu tampak pada kebebasan Indonesia yang kita miliki sekarang ini.
Merebut kemerdekaan bangsa adalah bagian mereka, namun mengisi dan memelihara bangsa menjadi bagian kita. Di bawah tekanan penjajah tidak melumpuhkan keberanian mereka, seyogyanya di dalam kebebasan menghidupkan semangat juang kita. Kalau dulu mereka menagis melihat bangsanya dijajah, menangiskah kita melihat permasalahan bangsa ini? Di dalam tangis mereka berjuang, apakah di dalam tangis kita mau memberi diri?
Kalau mereka diminta mengemukakan harapan di akhir hidupnya, mungkin isinya berupa seruan untuk melanjutkan perjuangan mereka. Seruan supaya kita, para pahlawan muda, meneruskan pembangunan bangsa. Merebut kemerdekaan menjadikan mereka pahlawan (meski tak dikenal), memberikan diri membangun bangsa akan menjadikan kita pahlawan pembangunan (yang mungkin juga tak dikenal).
Para pahlawan tak dikenal itu melakukan bagiannya dengan baik. Mereka memberikan dirinya dengan apa yang ada padanya. Mereka tidak meninggalkan nama yang dikenal orang banyak , namun mengajarkan semangat yang kekal. Semangat itu diharapkan mengalir dalam diri generasi penerusnya. Semangat itu telah memampukan mereka menerobos dan melawan penjajah. Bayangkan, jika semangat seperti itu mengisi jiwa saya, jiwa anda, jiwa kita semua. ” Penjajah-penjajah moderen” yang menggerogoti bangsa inipun akan mampu diusir. kita akan dihantar ke gerbang kehidupan berbangsa yang lebih baik, lebih sejahtera dan lebih berbahagia.
Senin, 08 Maret 2010
Keutuhan Berbahasa di Lingkungan Banyak Bahasa
Perjalanan panjang sudah ditempuh sejak Bahasa Indonesia diikrarkan dan disahkan sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia dinyatakan saat memulai perjuangan untuk memasuki kemerdekaan bangsa, sedangkan saat ini bahasa Indonesia sudah dipergunakan dan masuk ke dalam era globalisasi/kesejagatan. Era kesejagatan menghantar bahasa Indonesia mejadi bahasa yang dipertanyakan apakah bahasa yang digunakan masih merupakan bahasa khas Indonesia ataukah sudah memiliki embel-embel tambahan. Penggunaan bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional, secara tidak langsung menganaktirikan bahasa Indonesia bahkan oleh orang Indonesia sendiri. Hal ini dapat terlihat dari contoh-contoh kecil yang terdapat dilingkungan masyarakat. Sejak kecil orangtua memilih mengeluarkan uang untuk memberikan anaknya les bahasa Inggris, sedang bahasa Indonesia tidak diajarkan dengan baik. Contoh lainnya para pelajar akan lebih serius belajar bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Mereka beranggapan belajar bahasa Indonesia lebih mudah daripada bahasa Inggris. Pemahaman seperti ini semakin mengecilkan nilai dari bahasa Indonesia itu sendiri. Alhasil, saat ini kita melihat bahasa Indonesiapun seperti kehilangan kata-kata tertentu. Bahasa Indonesia mengalami pencampuradukan dengan bahasa lain. Penggunaan kata-kata yang kebarat-baratan sering ditemui di tengah-tengah masyarakat. Kalau bahasa menunjukkan jati diri bangsa, maka apakah penggunaan bahasa yang demikian menunjukkan jati diri orang Indonesia?
Perdagangan bebas di Indonesia akan benar-benar dilaksanakan pada tahun 2010. Pencampuran bahasa akan semakin terasa di lingkungan kita. Banyak orang yang akan datang dari negara lain bekerja di Indonesia. Pada awalnya mungkin akan membawa bahasa Internasional¬¬−dalam hal ini Bahasa Inggris−, namun mungkin saja nantinya bahasa mereka sendiri akan mengisi percakapan kita sehari-hari. Hal ini dikerenakan mereka melihat ketidakutuhan masyarakat Indonesia sendiri dalam berbahasa.
Oleh karena itu, menanti waktu yang tinggal sebentar lagi, mari kita cegah mulai saat ini. Pribahasa yang berbunyi “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebaiknya benar-benar diterapkan di seluruh lingkungan Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti: pertama, untuk pemerintah bisa menetapkan aturan dalam lingkungan kantor menggunakan Bahasa Indonesia, baik di swasta maupun negeri. Lingkungan pendidikan, mahasiswa luar negeri di wajibkan menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan mereka sehari-hari. Untuk para pendidik dan orangtua mengajari anak berbahasa Indonesia dengan benar khususnya di lingkungan sekolah. Untuk para anak muda yang merasa lebih “keren” jika menggunakan bahasa gaul dan bercampur bahasa Inggris mari menghentikan pandangan tersebut. Kita akan tampak lebih keren jika berbahasa dengan utuh. Ketika percakapan itu membutuhkan bahasa Inggris gunakan Bahasa Inggris namun jika Bahasa Indonesia berbahasalah dengan tepat dan utuh.
Sehingga nanti saat perdagangan bebas sudah benar-benar di depan mata, saat bahasa sudah beranekaragam di telinga, saat banyak kata yang berbeda keluar dari mulut keutuhan Bahasa Indonesia tetap terjaga. Bahasa Indonesia tetap menunjukkan jati diri Bangsa Indonesia, di dalam keberagaman namun tetap menjadi simbol persatuan
Nasionalisme : Merongrong Masyarakat Dengan Jiwa Gotong Royong
Namun perbedaan karakteristik pada suku-suku tersebut bukan menandakan tidak ada ciri khas Indonesia secara umum. Satu dari sekian banyak ciri atau sifat orang Indonesia adalah gotong royong. Kata ini sering disebutkan dalam pelajaran kewaganegaraan ketika masih duduk di Sekolah Dasar. Gotong royong adalah suatu kondisi dimana satu sama lain saling membantu agar tercipta kebahagiaan dan kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Soekarno pernah mengatakan dengan ciri gotong royong yang melekat dalam diri orang Indonesia maka Indonesia dapat menjadi negara yang kuat dan berprinsip. Gotong royong mengalahkan sifat mementingkan diri sendiri, gotong royong mampu menepis perbedaan dalam masyarakat, gotong royong memudahkan selesainya pekerjaan, gotong royong menjadi langkah maju secara bersama-sama dan bahu membahu mengejar ketertinggalan.
Salah satu budaya gotong royong yang sering dilakukan bangsa Indonesia adalah saat musim panen. Setiap orang secara bergantian membantu panen orang lain. Hari ini menyelesaikan panen si A, besok menyelesaikan panen si B, besoknya lagi bergantian menolong si C begitu seterusnya sampai selesai masa panen. Kebersamaan, persaudaraan, rasa memiliki, kepedulian tercermin dari sikap gotong royong tersebut.
Perkembangan zaman tanpa terasa mengikis karakter bangsa Indonesia dalam bergotong royong. Tradisi gotong royongpun sudah jarang terlihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Saya ingat ketika masih kecil dulu, sering ada kegiatan membersihkan desa bersama seluruh warga masyarakat. Namun kebiasaan ini sudah tak terlihat lagi khususnya diperkotaan. Kegiatan membersihkan desa/lingkungan sekitar menjadi pekerjaan buruh yang dibayar. Sifat atau karakter ini sudah bergati wujud menjadi memikirkan diri sendiri. Tetap melakukan gotong royong namun untuk kepentingan diri sendiri.
Pudarnya jiwa Gotong-royong
Gotong-royong untuk kepentingan diri sendiri dapat dilihat dari tindakan para petinggi negeri ini. Di kalangan pejabat sendiri istilah gotong royong sudah menjelma menjadi gotong bohong. Mereka secara bersama-sama melakukan korupsi. Lihat saja seperti kasus BLBI, bersama-sama dari kalangan yang sama mengambil duit rakyat untuk diri sediri. Secara bersamaan mereka tolong menolong untuk membohongi dan menipu negara . Contoh lainnya adalah gotong royong dalam menghabisi nyawa orang lain. Mereka duduk bersama, memikirkan, menemukan cara yang tepat untuk menghabisi nyawa orang lain. Mereka bergotong royong untuk kepentingan masing-masing.
Adalagi semangat gotong royong yang terlihat mulia akan tetapi berbahaya. Gotong royong dijadikan sebagai kain penutup untuk kepentingannya sendiri. Ingat dengan kejadian Situ Gintung? Ketika tragedi itu terjadi, banyak calon pejabat dan pejabat berbondong-bondong datang untuk mengulurkan bantuan. Kita dapat melihat di televisi bagaimana mereka memberikan bantuan dan terjun langsung kelapangan untuk bertemu dengan para korban. Mulia bukan? Tapi tunggu dulu, itu terjadi di masa pemilu. Mereka berbodong-bondong untuk menarik simpati masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat memberikan hak pilih umtuk mereka. Kondisi ini menunjukkan harga yang harus dibayar untuk mau bergotong royong. Sekarang coba bandingkan dengan gempa bumi yang baru terjadi sebulan yang lalu. Adakah pejabat yang turun langsung kelapangan dan menolong para korban? Kalaupun ada mungkin hanya pemerintah setempat yang memang memiliki tanggungjawab terhadap para korban tersebut. Gotong royong tidak lagi menjadi tolong menolong untuk kepentinganmu namun sudah berubah menjadi kepentinganku.
Mengapa karakter gotong royong ini bergeser dari jiwa orang Indonesia? Ada beberapa alasan yang bisa saya kemukakan. Pertama, Orang Indonesia kurang mengenal jati diri bangsanya, pelajaran sejarah yang diperoleh di sekolah hanya dimengerti sambil lalu saja. Nenek moyang yang dipelajari senang gotong royong didengar masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Kedua, orangtua kurang mengajarkan gotong royong kepada anak-anaknya. Anak-anak dibiarkan bertumbuh dan dididik mengerjakan pekerjaan secara tersendiri. Hal ini mendidik untuk mandiri baik namun anak-anak jadi kurang peka terhadap kepentingan orang lain. Ketiga, persaingan dan tantangan jaman yang semakin ketat sehingga manusia diajak untuk berfikir menyelamatkan diri sendiri dari pada membantu orang lain untuk maju bersama. Keempat, perkembangan teknologi memudahkan manusia mengerjakan pekerjaannya tanpa harus dibantu oleh orang lain. Kelima, tidak ada lagi contoh yang bisa ditiru untuk semangat gotong royong ini. Para pemimpin yang seharusnya menjadi panutan malah lebih sering menimbulkan ejekan. Mereka sering duduk bersama, namun tidak bekerjasama. Hal yang sering terjadi adalah mengutamakan kepentingan kelompoknya daripada kepentingan bangsanya.
Gotong royong wujud dari nasionalisme
Orang sering mengartikan nasionalisme sebagai wujud cinta terhadap bangsanya. Wujud cinta tanpa tindakan sama saja dengan perkataan tanpa perbuatan yang berarti nol besar. Wujud cinta terhadap bangsa tidak harus dilakukan dengan tindakan yang besar seperti melakukan aksi unjuk rasa dengan alasan untuk menyuarakan suara rakyat. Wujud cinta tidak harus berupa memberikan jiwa raganya untuk bangsa dan negara (kalaupun ada yang melakukannya sungguh suatu bentuk wujud cinta yang mulia). Akan tetapi wujud cinta terhadap bangsa dapat dinyatakan melalui contoh-contoh sederhana. Salah satunya adalah menghidupkan kembali budaya gotong-royong di tengah tengah masyarakat.
Budaya gotong royong dapat diterapkan dalam setiap aspek dan setiap usia, namun mungkin bukan lagi dalam bentuk seperti jaman dahulu. Kebutuhan masa sekarang dengan masa dulu sudah berbeda. Keadaan sekarang dan dahulupun berbeda. Anak-anak yang mampu bersekolah dapat bergotongroyong menolong temannya yang kesulitan mengikuti pelajaran. Mereka dapat belajar bersama sehingga temannya yang kesusahan dapat tertolong. Para pemuda yang duduk sambil tertawa menyantap sepotong roti “Breadtalk” atau segelas “Starbucks” dapat bergotongroyong dengan membeli satu potong dan memberikan kepada anak jalanan. Dengan demikian, hal tersebut sudah menolong anak jalanan terhindar dari rasa lapar untuk hari itu. Pelajar sudah bergotongroyong menolong bangsanya ketika belajar dengan tekun dan menguasai ilmunya. Ibu-ibu atau para wanita yang senang berbelanja, sudah bergotongroyong dengan membelikan sepotong pakaian dari harga termurah dan memberi kepada pengemis yang mungkin tidak berganti baju dalam sebulan. Membayar pajak penghasilan oleh orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap adalah salah satu bentuk gotong royong dll dll.
Budaya gotong-royong tidak hanya dapat diterapkan dari satu individu ke individu lainnya, namun dapat juga diterapkan dari satu sektor ke sektor lainnya. Sebagai contoh, sektor pertanian butuh sokongan dari sektor perhubungan, perindustrian dan perdagangan. Misalnya saja, produk pertanian yang akan dipindahkan dari produsen kepada konsumen. Jalan yang baik akan mendukung keberadaan dan keutuhan produk sampai di tempat tujuan dengan kondisi yang bagus. Nilai produk pertanian tersebut akan lebih tinggi ketika mampu diolah lewat industri sehingga memberinya nilai tambah. Harga produk tersebut akan menguntungkan bagi petani dan juga konsumen ketika tataniaganya bejalan dengan baik. Salah satu contoh yang sederhana, suatu bentuk gotong-royong dari sektor-sektor. Apa jadinya jika setiap sektor hanya berusaha sendiri? Maka produk pertanian akan mengalami penurunan, industri akan kekurangan bahan baku sehingga harus mengimpor yang akhirnya merugikan masyarakat sendiri.
Gotong royong akan menolong bangsa, mungkin bukan dalam waktu yang singkat namun mampu memberikan manfaat. Saat “gotong-royong” benar-benar digalakkan maka bukti dari kata-kata Bung karno di atas bisa terlihat. Dengan demikian ciri khas bangsa Indonesia yang bersifat gotong-royong tidak hilang dimakan oleh jaman, namun terlihat dalam menghadapi perkembangan untuk Indonesia yang lebih baik.
perbedaan mengalahkan rasa
Kesalahan yang dia buat adalah saat dia memberiku harapan ada rasa di dalam sana. Kesilapan yang kulakukan adalah saat kunci hati kuserahkan padanya dan kuijinkan untuk dibuka olehnya. Ahh...sedih hati ini jika mengingatnya. Aku sudah membawanya dalam doa. Sudah menyambut setiap perhatiannya. Namun ternyata untuk saat ini dia bukan untukku. Terlalu naïf dan terlalu cepat dulu membuka hati ini.
Aku ingin menangis dalam diam, agar mereka tak tahu bahwa aku menangis karenanya. Inginku menghindar darinya karena dia tak tau betapa aku tersiksa bila melihatnya. Sahabat, ah tampaknya tak bisa jadi sahabat, hanya bisa jadi teman. Mungkin hanya itu untuk saat ini meskipun aku butuh waktu untuk dengan tulus menjadikanmu teman. Andai perbedaan itu bukan masalah, mungkin akan lebih banyak cerita yang yang ditutur, akan lebih banyak kisah yang akan diukir, akan lebih banyak rasa tercipta yang tak dapat diukur.
Untukmu....
aku tidak menyesali setiap pertemuan,
setiap percakapan, setiap tawa dan canda yang pernah ada
Satu hal yang kusesali adalah aku tidak menyiapkan diri untuk patah hati.
Persamaan-persamaan yang tampak seakan membungkam perbedaan yang tersembunyi. Dan tanpa disadari perbedaan kecil itupun menjadi penghambat rasa yang hampir menyatu. Perbedaan itupun menjadi penyambung jatuh cinta menjadi patah hati. Dan perbedaan itu menjadi alasan pemisah rasaku dan rasamu. Berdoa yang terbaik bagimu dan aku percaya kaupun berdoa yang terbaik untukku..
...Tiada yang salah dengan perbedaan
Yang salah adalah sudut pandang kita
Yang tidak bisa disatukan dan diakurkan...
Nordenny ella, 22:30...6 maret 2010
Saat rasa tak dapat bersama goresan ini dan airmata menjadi buktinya..
***catatan iseng disaat heng (hahaha,maksa harusnya hang^^)..
***berdasarkan imajinasi yang pernah dirasakan oleh orang lain..
Selasa, 17 November 2009
coba-coba tes kepribadian =D
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.
The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.The seriousness of your love:
Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.Your views on education
Education is less important than the real world out there, away from the classroom. Deep inside you want to start working, earning money and living on your own.The right job for you:
You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.How do you view success:
You are afraid of failure and scared to have a go at the career you would like to have in case you don't succeed. Don't give up when you haven't yet even started! Be courageous.What are you most afraid of:
You are afraid of things that you cannot control. Sometimes you show your anger to cover up how you feel.Who is your true self:
You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve.mengabaikan kata menyerah
banyak waktu kosong itu benar, namun ternyata banyak kesempatan untuk hal lain tidak benar..
masa-masa ini menimbulkan musim baru dalam diriku, musim fluktuasi..mulai dari fluktuasi perasaan, fluktuasi semangat, fluktuasi harapan, fluktuasi bersosialisasi dengan orang lain..
ada saatnya aku mendapati semangatku tertinggal di dasar, dan membuatku malas beranjak menyentuh tumpukan kertas dan mengubahnya menjadi tumpukan kertas yang berguna dan segera diselesaikan..
posisi semangat itu berada di dasar saat aku mendapati kesulitan akan tugas akhir ini ( sampai saat ini aku baru mengerti mengapa orang bisa berubah saat bersentuhan dengan yang namanya skripsi=))..
kesulitan yang tak pernah terfikirkan olehku, kesulitan yang tak pernah ada di benakku, kesulitan yang masih melilit pikiranku sampai saat ini..hah, ternyata semua tidak segampang yang kuduga..
Beberapa kali pernah berkenalan dengan kata menyerah, yang akhirnya membawaku masuk dalam kondisi diri yang terpurukk(hehheee..)..terpuruk dalam kesendirian (bisa menghabiskan waktu seharian di kamar, tanpa berinteraksi dengan orang lain, dapat menghasilkan ribuan derai air mata yang terlampiaskan lewat tangis yang tak bersuara ( takut kedengaran dengan tetangga kamarku ;p), mengacuhkan orang disekitarku dan menjadi sedikit tidak peduli dengan kondisi mereka dan keterpurukan-keterpurukan lainnya..( sebenarnya tidak terpuruk seperti pengertian terpuruk yang sesungguhnya..;p hehehheee)..
Beberapa hari ini ( dengan kondisi diri yang masih sedikit cipritan tidak bersemangat) aku diingatkan melalui saat teduhku..)
Kemarin belajar bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan anakNya sendiri..(dikuatkan namun masih tersisa pertanyaan iyakah???.Lalu hari ini diingatkan untuk fokuss...Fokus pada kuasa Allah bukan fokus pada masalah...
Dikuatkan pastinya, namun (ah, selalu ada kata namun), saat aku belum melihat secercah pemecahan dari persoalan TA ku....
Saat ini aku sedang berfikir untuk mengabaikan kata menyerah, mengabaikan pemikiran bahwa ini sulit, mengabaikan bahwa ini akan lama terselesaikan..
ya, aku mengabaikaknnya..
dan aku akan menggantikannya dengan harapann..
harapan akan ada penyelesainnya nanti, harapan bahwa akan ada mujizat di balik persoalan ini, harapan bahwa semua akan baik-baik saja..
Harapan yang akan terus aku pupuk, sehingga mampu mengusir kata menyerah yang pernah timbull
mengabaikan kata menyerah berarti tidak akan memberikan lagi kesempatan padanya untuk hadir kembali..
hehehhehehee
aku bisa aku pasti bisa..( bersama Tuhan tentunya..)..=p
Selasa, 13 Oktober 2009
"surat untukmu sahabat"
“Aku pergi ya”, kataku meninggalkan teman yang sedang membereskan kamarnya. Beberapa hari ini aku menginap di tempatnya, karena jarak dari kosannya ke tempat penelitianku tidak begitu jauh. Dengan demikian, dapat mengurangi keletihanku selama penelitian(hal itu yang menjadi alasanku sehingga aku memutuskan menginap di Bandung). Baru saja keluar dari kosan, silau matahari pagi langsung menyapaku dan kusambut dengan sedikit keluhan,,”aduh panas sekali hari ini. Akan tetapi, mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela aku harus melewati terik yang menggigit itu.
Perjalanan pun dimulai, entah karena aku yang kurang enak badan, atau karena panas matahari yang sengit sehingga menggangu kenormalan tubuhku. Kepalaku mulai menunjukkan gelagat ketidaksukaan terhadap panas hari itu. Pusing, berat dan jadi pangling. Namun, dalam diri kutekadkan, “hati yang gembira adalah obat” sambil berseru kepada diri sendiri dan mempengaruhi pikiran sendiri. Percaya atau tidak, langkah ini mujarab dan berhasil. Rasa pusing itu hilang dan diganti dengan rasa senang.
Pekerjaan pun dimulai
Dia atau tepatnya beliau berusia 71 tahun( dapatkah kau bayangkan bagaimana kondisi tubuhnya). Tua, pendengaran yang mulai berkurang, mata yang terus berair, berjalan dengan terbungkuk. Kulit yang mulai keriput dan tenaga yang mulai melemah. Beliau membuka pintunya dan menyuruhku masuk(saat itu aku melihat ada harapan di balik tatapannya).
Beliau pun mulai bercerita,”setiap hari Bapak bangun subuh neng, narik becak. Kadang sehari cuman dapat Rp 20000 saja. Bapak lebih sering menarik sampai siang aja, soalnya ngga kuat lagi kalau sampai sore. Bapak suka bingung neng, kalau hasil dari naik becak hanya dapat segitu, Cuma bisa beli beras dua kilo, padahal cucu Bapak teh banyak. Mereka sering makan di tempat Bapak.
Aku: anak Bapak pada kemana Pak?
Bapak: Wah, mereka juga susah neng, untuk keperluan sehari-hari mereka saja kayaknya susah jadi ngga mungkin bantu Bapak. Bapak kira teh neng datang mau ngasih sumbangan ke Bapak.
Deg, dalam hati aku berkata : maafkan aku Pak, belum bisa memberikannya
Usia 71 tahun masih membuatnya tampak kuat saat harus mengayuh becak dari pagi sampai sore, sedangkan usia 22 tahun membuatku tampak lemah karena keletihan menjelajahi Bandung Jatinagor sehingga harus menginap di Bandung. Tampak tak adil.
(Pembicaraan itu memenuhi benakku sekeluarnya dari rumah itu dan menuju rumah lainnya)
Mereka menaruh harapan pada kita
Mencari alamat diper kotaan dengan keterangan yang tidak akurat ternyata sulit, sehingga langkah yang kulakukan untuk mengatasinya adalah menghubungi pemerintah setempat( Kepala RT-pen).
Ketika bertemu dengan Bu RT dia pun berkata,”Neng dapat data dari B***(salah satu instansi pemerintah). Mereka mah kalau mendata suka asal neng, data tahun-tahun sebelumnya langsung aja dimasukin sebelum diperiksa lagi, padahal orangnya sudah meninggal juga. Kalau mereka benar-benar melakukan pendataan, pasti bisa kedata orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya(data ini adalah jenis data penerima ‘sesuatu” dari pemerintah). Tolong ya neng, neng dan aa( salah seorang teman yang menemaniku) kan mahasiswi perpanjangan suara masyarakat kepada pemerintah, bilangin biar pemerintah benar-benar memperhatikan orang-orang yang kekurangan. Banyak pisan neng yang kekurangan, tapi kurang diperhatikan
Dan aku diam disana, menatap si ibu dengan senyuman dan anggukan. Senyuman untuk sebuah harapannya yang besar, anggukan untuk menyampaikan??apakah aku akan menyampaikannya kepada pemerintah?Ntahlah, yang pasti anggukan itu adalah persetujuan terhadap pernyataannya bahwa ada banyak orang yang tidak dipedulikan, ada banyak orang yang tidak diperhitungkan, ada banyak orang yang berkekurangan. Ada banyak….banyak teman, …
Aku ingin mengajakmu mengelilingi dan melihat mereka. Ah, tapi tak perlu jauh-jauh ke sini, bukankah di sekitarmu juga banyak. Di jalan raya,di kendaraan umum, di televise di mana-mana kau bisa menemukannya.
Aku teringat dengan keluhanku di pagi hari, aduh panas sekali hari ini. Apakah si bapak tua itu akan mengeluh ketika menarik becak? Mungkin iya untuk sehari, namun tidak untuk hari-hari selanjutnya. Apa yang akan dia makan, apa yang akan diberikan kepada cucunya jika untuk panas matahari saja dia mengeluh? Panas matahari mungkin jadi teman perjalanannya saat mencari penumpang, akan menjadi tempat ceritannya saat tidak bertemu penumpang.Ah, sungguh tidak adil fikirku. Tahukah kau bagaimana caranya agar semuanya tampak adil?
Mereka membutuhkan sumbangan. Sumbangan yang tidak hanya berupa materi. Mereka butuh sumbangan berupa perhatian, rasa sayang, dipedulikan dan diperhatikan. Aku tidak mengajakmu untuk langsung datang dan berbagi kasih sayang dengan mereka, Aku tidak memintamu untuk memberikan semua yang kau punya bagi mereka,bukan,bukan itu. Aku hanya memintamu untuk bersama-sama berfikir bagaimana agar tampak keadilan antara kenyamanan yang kita rasakan dengan keterbatasan yang mereka alami.
Keadilan yang boleh tampak dari pekerjaanmu ketika bekerja untuk pemerintah berharap hati kita bekerja untuk rakyat, sebagai “penyambung suara mereka” Keadilaan yang terlihat dari makanan yang tidak kita sisakan saat sudah merasa kenyang−karena mungkin “mereka” sering tidak kenyang− makan dengan keterbatasan. Keadilan yang nyata saat materi yang kita punya tidak terbuang untuk kesenangn belaka. Keadilan ketika senyum yang menghiasi wajah kita −ketika memperoleh benda yang diinginkan, menang dalam suatu permainan−dan senyum itu juga menghiasi mereka saat menyadari bahwa hari ini dan besok ada sesuap nasi yang bisa mereka santap. Keadilan saat kita tidak mengeluh karena “kepanasan”, karena mereka pun tudak mengeluh untuk “panas” itu…
Ah, sahabat lebih jauh dari itu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi ketidakadilan itu??
Setiap aku bercerita padamu,aku tahu kau selalu punya masukan, nah untuk hal ini, adakah yang bisa kita lakukan??